Senin, 22 Oktober 2012

jurnal 1


metode riset

3 TUGAS JOURNAL - METODE RISET
Nama : Nur Febrianto
Kelas : 3EA18
NPM : 19210778







1. MENANGGULANGI KEMISKINAN DESA

Gregorius Sahdan
Maret, 2005

TEMA
Rakyat dan Kemiskinan

LATAR BELAKANG MASALAH :

FENOMENA
Rendahnya Human Development Index (HDI), Indeks Pembangunan Manusia Indonesia.Secara menyeluruh Dan kualitas manusia Indonesia relatif masih sangat rendah, dibandingkan dengan kualitas manusia di negara-negara lain di dunia. Sehingga menyebabkan :


RISET PENELITIAN
- Tahun 1998 dari 49,5 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia
sekitar 60%-nya (29,7 juta jiwa) tinggal di daerah pedesaan
- Tahun 1999, prosentase angka kemiskinan mengalami penurunan
dari 49,5 juta jiwa menjadi 37,5 juta jiwa.
- Prosentase kemiskinan di daerah perkotaan mengalami penurunan, tetapi
prosentase kemiskinan di daerah pedesaan justru mengalami peningkatan
dari 60% tahun 1998 menjadi 67% tahun 1999 sebesar 25,1 juta jiwa,
sementara di daerah perkotaan hanya mencapai 12,4 juta jiwa (Data
BAPPENAS, 2004).
- laporan Kompas tahun 2004 yang menyajikan bahwa lebih dari 60% penduduk
miskin Indonesia tinggal di daerah pedesaan

MOTIVASI PENELITIAN
Merubah pola penanggulangan kemiskinan yang selama 3 dekade telah salah sehingga keberlanjutannya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran dan komitmen pemerintah. Yaitu dengan cara :
o Meningkatkan mutu sumber daya manusia desa melalui pendidikan
formal dan nonformal;
o Meningkatkan ketersediaan sumber-sumber biaya pembangunan desa
dengan alokasi anggaran yang jelas dari pusat, provinsi dan
kabupaten;
o Menata lembaga pemerintahan desa yang lebih efektif dan
demokratis;
o Membangun sistem regulasi (PERDes) yang jelas dan tegas;
o mewujudkan otonomi desa untuk memberikan ruang partisipasi dan
kreativitas masyarakat;
o Mengurangi praktek korupsi di birokrasi pemerintah desa melalui
penerapan tatanan pemerintahan yang baik;
o Menciptakan sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih,
akuntabel, transparan, efisien dan berwibawa;
o meningkatnya partisipasi masyarakat desa dalam pengambilan
kebijakan publik;
o memberikan ruang yang cukup luas bagi keterlibatan perempuan dalam
proses pengambilan kebijakan publik.




MASALAH
- Anak – anak desa miskin akan pendidikan yang berkualitas
- Kesulitan membiayai kesehatan,
- Kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi,
- Kurangnya akses ke pelayanan publik,
- Kurangnya lapangan pekerjaan,
- Kurangnya jaminan sosial dan perlindungan
- Terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota,
- Dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat
memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas

TUJUAN PENELITIAN
- Meningkatkan mutu sumber daya manusia desa melalui pendidikan formal
dan nonformal;
- Meningkatkan ketersediaan sumber-sumber biaya pembangunan desa dengan
alokasi anggaran yang jelas dari pusat, provinsi dan kabupaten;
- Menata lembaga pemerintahan desa yang lebih efektif dan
demokratis;membangun sistem regulasi (PERDes) yang jelas dan tegas;
mewujudkan otonomi desa untuk memberikan ruang partisipasi dan
kreativitas masyarakat;
- Mengurangi praktek korupsi di birokrasi pemerintah desa melalui
penerapan tatanan pemerintahan yang baik;
- Menciptakan sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel,
transparan, efisien dan berwibawa;
- Meningkatnya partisipasi masyarakat desa dalam pengambilan kebijakan
publik;
- Memberikan ruang yang cukup luas bagi keterlibatan perempuan dalam
proses pengambilan kebijakan publik.




METODELOGI
Bertujuan mengantisipasi kenaikan tingkat kemiskinan desa


DATA SAMPEL
Populasi masyarakat desa



TAHAPAN PENELITIAN
Data yang dihimpun UNSFIR menggambarkan bahwa dalam waktu 3 tahun (1997-2000) telah terjadi 3.600 konflik dengan korban 10.700 orang, dan lebih dari 1 juta jiwa menjadi pengungsi. Meskipun jumlah pengungsi cenderung menurun, tetapi pada tahun 2001 diperkirakan masih ada lebih dari 850.000 pengungsi di berbagai daerah konflik; lemahnya partisipasi. Berbagai kasus penggusuran perkotaan, pemutusan hubungan kerja secara sepihak, dan pengusiran petani dari wilayah garapan menunjukkan kurangnya dialog dan lemahnya pertisipasi mereka dalam pengambilan keputusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar